Menerjang Batas
Siang itu tampak sedikit mendung, suasana hiruk pikuk
dan anyir terasa menyesakkan. Medan pertempuran memang begitu mengerikan. Tanah
merah darah dengan tubuh-tubuh terpotong bergelimpangan, menghilangkan selera
makan dan mata pun enggan terpejam. Ya, aku terlibat di dalam perang akbar
sepanjang sejarah, “Baratayudha”
Perang ini berlangsung begitu
dahsyat. Karena prajurit yang tersisa amat terbatas, jadilah aku yang seorang
pengawal putri biasa, harus ikut serta merentangkan gendewaku dan berbaris di
belakang Raden Arjuna. Di antara prajurit pemanah kubu Amarta, sayap barat
formasi perang.
Kugenggam erat gendewa di tangan
kiri dan kutebarkan pandang penuh kewaspadaan. Tampak di baris paling depan,
darah terus saja muncrat dari kedua kubu yang sama kuat tersebut, luka sayatan
pedang dan mayat prajurit jatuh satu persatu. Tiba-tiba,
"Nimas Rara, bersiaplah! Bidik
di sisi tengah!!" teriakan Raden Arjuna yang membuatku dan sederet
prajurit pemanah memusatkan pandang ke arah prajurit lawan di sisi tengah.
Bersiap mengambil anak panah dan merentangkan gendewa.
Saat aku sedang menebar pandangan, napasku
memburu kala melihat seorang kesatria di ujung sana dengan lincahnya menebas
prajurit Amarta di sebelah kanan dan kirinya. Dia memakai baju kesatria
berwarna biru muda, dan memakai mahkota kesatria. Tampak rambutnya yang panjang
tak digelungnya, tetapi dikuncir seperti ekor kuda. Wajahnya tampak lusuh
terciprat darah serta terpaan debu tanah tandus. Kesatria itu semakin menerobos
ke sisi tengah prajurit Amarta. Kelincahannya membuat tubuhnya seperti tak
tergores sedikitpun oleh senjata dari prajurit Amarta.
Jantungku berdetak keras, dan tanpa
terasa, dari sudut mataku mengalir setitik air. Batinku berbisik, 'Tuhan, yakinkanlah aku, ini yang terbaik
untuk semua'. Aku mengarahkan anak panahku pada Kesatria itu. Kesatria yang
terletak berpuluh-puluh tombak didepan sana. Aku ragu, kulirik punggung Raden
Arjuna sekilas, tampak Raden Arjuna juga menengok kearah belakang, kearahku.
Lirikannya yang sekilas itu menguatkanku. 'Akankah
Raden Arjuna mendengar bisikan hatiku?'
Aku kembali menatap lekat Kesatria
itu, mencoba merasuk ke dalam keyakinannya, apa yang sebenarnya diinginkannya. Tangannya
terus saja bergerak--menangkis serta menusuk prajurit Amarta--tanpa ampun. Berangsur
semakin mendekat dan berbahaya. Tangan kiriku gemetar hebat mengarahkan panah
ke arahnya. Jantungku berdentum kuat. Bukan!
Bukan karena aku takut membunuh orang! Bukan juga aku takut berada di medan
perang yang ganas ini. Sungguh bukan itu!! Tapi, sayu tatap matanya yang tenang
selalu tergambar dalam benakku. Membuat telapak tanganku mendingin. 'Aku
ragu...'
“Apa yang kau tunggu, Nimas?” tanya
Raden Arjuna yang berada beberapa tombak di depanku. Benar saja, kesaktian
Randen Arjuna pasti bisa menebak keraguanku.
“Hufh...” kuhela nafasku yang kian
memberat. Dan terus membidik ke arah Ksatria di depan sana. Makin terasa
bendungan di pelupuk mata hampir tumpah, “Kangmas...” bisik lirih itu terucap
begitu saja dari mulutku. Dan entah angin apa yang mengantarkan panggilan itu,
gerakan tangannya berhenti sejenak dan mencari-cari pandang ke arah tempatku
berdiri. Mata sayunya menatapku diiringi senyum. ‘Kesatria itu tersenyum kearahku? Memperlihatkan deretan intan putih
itu untukku kah?’ Meski berjarak puluhan tombak, tapi terlihat jelas oleh
mataku. Kesatria itu tak sedetik pun melupakanku. Dia mulai bergerak lagi
karena telah terdesak tentara Amarta.
Srruuuuttt!!!
‘Duh Gusti!
Apa ini? Apa yang baru saja kulakukan?’ Mataku terbelalak lebar dan tak
sanggup lagi menahan bendungan air di pelupuk mata. Anak panah milikku terlepas
begitu saja. Bergulir deras tepat mengenai dada kiri Kesatria itu. Hingga Kesatria
itu terhentak ke belakang, dalam. Air mataku mengaliri pipi dan jatuh
satu-persatu ke bumi. Aku menangis dalam diam. Mata yang kini nanar ini tetap
berusaha memperhatikannya, ikut merasakan betapa nyerinya karena anak panahku
melesat tepat ke jantungnya. ‘Haruskah
aku bangga dengan prestasiku itu? Menghujamkan lawan dengan anak panah
milikku?’ Ya! Kalau saja dia bukan Kesatria itu, mungkin aku telah
tersenyum bangga akan ketepatanku. Tapi, kini yang kurasa, aku terus saja merasa
kian bersalah saat dia kembali mengulas senyum pada prajurit yang ada di
depannya dan dengan kesetanan malah menerjang maju menumpas siapapun lawan di
depannya tanpa ampun. Tangan kanannya terus menebas dengan pedang yang kini dia
sarungkan, sedangkan tangan kirinya terus memegangi anak panah yang menancap di
dadanya begitu dalam. Aku yakin dia mengenali anak panahku.
Kesatria itu berlari menuju ke
arahku sambil menangkis serangan yang datang menghadangnya, begitu pun kakiku
yang terus bergerak maju, melewati raden Arjuna yang kini tampak mafhum dengan
posisiku. Hingga akhirnya Kesatria itu berdiri mematung berjarak satu tombak
denganku. Bibirnya menunyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Mata
teduhnya kian menyiratkan semburat perih yang tertahan. Ya, pasti racun dari
anak panahku sedang bereaksi, mengalir ke setiap nadinya. Kami saling mendekat
dengan pelan.
“Ah,” aku mengaduh karena tanpa
kusadari pedangnya mengayun ke leher kiriku. ‘Apa ini?’. Mata nanarku menatapnya pekat mencoba mencari
penjelasan.
“Ah, Nimas?” suaranya bergetar
tersendat. Segera saja dibuangnya pedang yang ternyata telah terlepas dari
sarung saat tadi dibawanya berlari mengejarku. Darah segar mengalir dari leher
kiriku merembes ke baju kesatria berwarna abu-abu yang kukenakan. Kepala terasa
pening dengan sakit dan perih yang luar biasa. Pandanganku mulai kabur, aku
terjerembab ke tanah. Kesatria itu menghambur nenangkapku.
Kali ini aku yang menebar senyum
padanya. Matanya yang teduh itu terlihat penuh sesal, meski mataku telah kabur,
tapi aku merasakan itu. Dia kemudian berbisik di dekat telinga kananku.
“Nimas, bukan maksudku, sungguh...
Nimas, aku hanya tak ingin kau melihatku sedang sekarat. Ni... mas!” suaranya
makin kencang saat rasa perih ini sulit kutahan. Nyeri...
“Nimas, tunggu aku... Kita pasti
bertemu di kehidupan berikutnya.” Bisiknya lagi. Ya, lidahku telah kelu.
Pandanganku pun kini kabur sempurna. Gelap dan fana. Nyeri ini memaksaku untuk
mengatupkan kedua mataku. Satu-satunya indera yang masih dapat kuandalkan hanya
pendengaranku. Mendengar bisik lirih Kesatria bermata teduh itu. Ah, sepertinya
indera perasaku juga masih mampu menyadari keningku telah dikecupnya. Andai aku
bisa menggerakkan bibirku untuk tersenyum kepadanya.
Craaaasss!!!
Aku mendengar dengan masih jelas.
Seseorang telah mengayunkan pedangnya kearah kami. Hingga genggaman tangan
Kesatria bermata teduh itu melemas dan terlepas. Tubuhnya jatuh tersungkur di
depanku/ Mendahuluiku yang sedang merasakan sakitnya sekarat.
‘Ah,
inikah akhir dari kisah kami? Sepasang abdi prajurit dari dua negara berbeda
yang ternyata berseteru hingga berperang... Duh Gusti! Terimalah kami dalam
keabadian’
Hingga nafasku tercekat, inilah
hembusan terakhir...
End
*Big Thank You buat @KampusFiksi karena telah membantu menyunting flash fiction ini :)

lanjut lagi..tiba2 mereka muncul di masa depan.haha
BalasHapusAda beberapa ide liar tentang kelanjutannya Gha... aku mau membuat awal pertemuan mereka dulu :)
BalasHapus