Selasa, 03 September 2013

ONE MORE DAY



 “Haish, Kamu bener-bener nggak punya perasaan ya!” Rizuki mulai mengganas. Serius! Saudara macam apa dia? memaksaku melakukan suatu hal, padahal dia tahu aku tak pernah menyukainya.
            “Argh, Kamu lakuin aja sendiri!” Aku menyerah. Kulemparkan sendok ke meja, menjauh dari cangkir cappucino yang harusnya kuberi choco granule [1] di permukaanya. Meja dapur cafe kini dipenuhi cangkir-cangkir cappucino gagal yang kuhasilkan.
            “Hmm.. Tuan, Tuan Rizuki, Nona itu datang lagi.” bisik salah seorang maid[2]. Kulirik deretan meja cafe. Tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang yang asyik berbincang. Seketika Rizuki menyambar celemek pelayan dan daftar menu, kemudian berjalan lurus hingga sampai di depan meja seorang gadis.
            “Siapa dia?” tanyaku pada maid tadi.
            “Oh, hmm.. Nona itu sering mampir kemari, dan selalu memesan cappucino yang sama, tapi nggak pernah diminum. Padahal Tuan Rizuki sendiri yang selalu mengambil alih pesanannya,” keterangan dari maid itu membuatku curiga,permisi Tuan Touya, ada pelanggan lain yang datang.” lanjutnya sambil beranjak pergi. Oh, jadi gitu? Hmm, menarik juga. Kayaknya Rizuki suka gadis angkuh itu?
Kuamati sekilas gadis berambut hitam ikal sepunggung itu. Rompi kasual denim membalut rapi tubuhnya yang kecil. Matanya bulat, dan tampaknya dia bukan tipe gadis pengumbar senyum. Terlihat Rizuki malah yang berubah aneh di depannya. Penuh senyum dan salah tingkah.
Segera aku berbalik dan membuka rak dapur. Wangi yang khas menyeruak menembus kedalam pikiranku, damai.  Deretan kotak berisi beberapa jenis teh membuatku ingin lekas menyeduhnya.
            Rizuki muncul penuh senyum. Mungkin saja dia telah terasuki hantu yang sedang kasmaran.
            “Touya, Gimana latihanmu? udah beres?” Suaranya melunak. Ish..
             “Males! Kamu aja deh yang ngelola cafe ini, aku nggak bisa bikin kopi. Lagian murid musikmu pasti bisa maklumin. Biar ntar aku mbantuin investasi aja, ya.” ujarku sambil menggenggam erat cangkir keramik beralur bambu. Hangat...
            “Dasar kau! keras kepala. Susah diatur emang ya!” suaranya menindas. Sementara tangannya sibuk meramu sari kopi yang pekat, dari mesin ekspresso tua yang menjadi andalan cafe.
            “Hmmm...” dengusku. Buru-buru kuhirup aroma menenangkan dari teh hijau yang kuseduh. Ah, Aku hanya ingin menghindari perang saudara, tak lebih.
            Pria bertubuh tinggi besar itu menaikkan letak kacamatanya. Begitu tenangnya membubuhkan creammer dan melukiskan choco granule di permukaannya, diselipi senyuman. Setelah selesai, dia menggapai nampan dan mengantarkan pesanan gadis itu. Bahu bidangnya berayun mengimbangi langkah jenjangnya, tentu saja dengan senyum termanisnya yang membuatku muak.
            Kuperhatikan ekspresi dari gadis itu. Datar... Hahaha, Rizuki. Kasihan.. bahkan senyummu nggak dilirik sama sekali. Ckckck.
            Dia kembali ke dapur ketika aku telah menandaskan teh hijau penuh aroma itu. Kemudian aku beralih ke luar, aku harus segera pergi. Ada jadwal pemotretan menungguku.
            “Hei Touya, Kau mau kemana?” tanyanya.
            “Biasa” kataku datar. Aku yakin, Rizuki tak menggubrisku, dan aku tak peduli. Beberapa tamu mulai masuk ke cafe, sebagian bangku malah telah diduduki pelanggan. Aku keluar dari cafe yang berdinding bata merah itu, meninggalkan atmosfer kopi yang membuat candu bagi para penggemarnya.
                                                            @@@
“Hallo, Touya. Bisa nggak kamu ke cafe sekarang? Aku harus ke Bogor. Gantikan aku hari ini aja.” bujuk Rizuki padaku. Suaranya di ujung ponsel terdengar memberat, tak seperti biasanya.
“Ah, aku nggak bis...” belum sempat kukatakan alasanku, Rizuki langsung menyambar,
“Cuma buat hari ini. Bantuin aku mengawasi cafe, aku harus datang ke Konser anak didikku.” mohonnya lagi. Huft, ya.. tentu saja. Aku tak bisa berkutik dengan permohonannya kali ini. Kenapa dia? Tumben. Biasanya, dia bisa menghandle semuanya, kan?
                                                            @@@
            Sesi Pemotretan outdoor[3] sedikit menguras energiku. Ya, suhu matahari tropis kian meradang akhir-akhir ini. Membuat kulit Kirana, modelku kali ini, berkilat-kilat kecokelatan. Semakin eksotis ketika berpadu dengan gulungan ombak yang tersapu angin di belakang sana.
            “Ya, Good Job!” teriakku untuk semua kru yang telah membantuku, juga Kirana. Rasa lelah telah terlukis jelas pada wajah mereka. Kutengok hasil jepretanku sekilas. Aku tersenyum puas, semua titik angle telah terkuasai sempurna. Kamu emang jenius, Touya!
            “Touya, Kamu mau kemana sekarang? Boleh ikutan nggak?” Kirana tiba-tiba berada di sampingku, tangannya bergelayut manis di leherku. Seulas senyum manjanya hadir.
            “Aku mau ke cafe, ya ayo kalo mau ikut.” aku melemparkan tawaran padanya. Toh, bukan pertama kalinya aku mengajak seorang model ke cafe. Sering malah aku sengaja mengajak mereka untuk kukenalkan pada Rizuki, siapa tahu Abangku itu tertarik pada salah satunya? Rizuki sudah sangat matang untuk berumah tangga sebenarnya. Tapi, dia terlalu pemilih.
            “Oh, emm, Nggak jadi deh, aku ada pemotretan lagi.” katanya sambil tersenyum garing. Ya, aku tahu Kirana hanya sekedar berbasa-basi saja.
            Sambil mengemudikan mobil, kusebarkan pandangan ke sekitar. Mataku mematok pada seorang gadis mungil yang berjalan di trotoar. Menunduk, wajahnya terlihat samar dibalik rambut gelapnya yang tergerai. Beberapa buku digamitnya begitu saja. Tas mungilnya tampak berat. Dia melangkah dengan lemas. Lho, Bukannya dia gadis yang ditaksir Rizuki?
Mobilku kuhentikan tepat di depan cafe. Dengan bimbang aku melangkah masuk ke cafe yang hangat itu, jam klasik yang terpajang gagah telah menunjukkan pukul 14.00 WIB.
“Oh, Tuan Touya. Lama sekali nggak mampir kemari, Ah, kau terlihat lebih segar ya sekarang.” sapa seorang Butler[4] di dapur.
“Ya, karena aku nggak perlu liat kamu, Ndra.” kataku penuh canda. Butler yang bernama Indra itu pun tertawa.
“Tuan, Nona itu datang lagi” bisik Sonia, Maid yang minggu lalu juga mengabari gadis yang sama pada Rizuki.
“Terus?” tanyaku aneh, kedua alisku menaut. Gadis itu selalu di spesialin ya sama Rizuki? “bawain aja cappucino latte biasa” lanjutku. Maid itu menurut.
“Siap Tuan.” dengan sigap dia mengambil nampan di meja.
                                                @@@
“Silahkan dinikmati, Nona.” Sonia, telah mengembangkan senyum terindahnya tapi gadis itu tetap tanpa ekspresi. Secangkir cappuchino latte yang dihiasi creammer lembut dengan choco granule berbentuk bintang telah tepat berada di depannya. Sebuah goresan seni yang dihadirkan lewat secangkir cairan cokelat pekat beruap.
            “Terima Kasih.” terlihat dia hanya mengangguk. Hm.. aku masih penasaran dan berdiri di balik etalase service[5] cafe. Maid itu terus saja tersenyum, menunduk kemudian menjauh. Cappucino itu hanya diliriknya dan dalam sekejap ekspresinya berubah. Kemudian gadis itu mendorong cangkirnya ke pinggiran meja dan mulai berkutat lagi dengan netbooknya. Jari-jarinya seperti berkejaran dengan waktu, tanpa sempat ada yang mau mengalah. Kudekati dia.
            “Kamu nggak suka cappucinonya ya?” Dan dia tak bergeming. Seperti ada zona yang menyelimuti dirinya, sendirian.
            “Oh, suka kok.” katanya datar, tak sedikitpun dia melirik ke arahku. Dasar gadis angkuh! Sepasang matanya berpusat hanya pada apa yang dia kerjakan, meski dia terlihat tak nyaman kuperhatikan. Aku tak peduli.
            “Kalau gitu, minum dong!” Kataku lagi dengan sedikit tegas. Dia berhasil berpaling dari pekerjaannya, matanya yang lebar tak bisa menyembunyikan lirikan di sudutnya. Sensornya sedang bergerak mengamatiku. Mungkin dia merekam seorang lelaki bertubuh tinggi, kurus dibalik kaos oblong berwarna hitam yang menyembul dari lengan clemek dan rambut sedikit berantakan di bawah ikat kepala, kacau. Berantakkan! Dia menautkan sepasang alisnya. Aku malah melihatnya seperti, seseorang... Hm, tunggu..  Dia?!! Beneran Dia? Ah, aku tak bisa mempercayai kemampuan penglihatanku kali ini. Nafasku memburu, sepertinya otakku kehilangan nalar yang waras, mencari-cari adakah yang salah dengan ini? Hufh, aku harus tetap tenang. Setidaknya saat berada di depan gadis itu. Kulirik dia, Kemeja denim berwarna biru pudar membuatnya terlihat makin cantik. Ah, sangat rapi. Astaga! Apa dia nggak  mengenaliku? Jangan-jangan, memorynya 3 tahun lalu benar-benar lenyap termakan radiasi netbooknya hingga nggak mampu mengingatku sama sekali.
            “Apa hakmu nyuruh-nyuruh aku? Terserah aku dong mo minum atau nggak!” katanya sinis. Ah, mungkin kesanku kini sudah buruk di matanya sebelum dia sempat mengingatku. Haish! Bodoh.
            “Ya udah terserah kamu deh!” kataku ketus. Bahkan sepertinya kotak ingatannya telah benar-benar kosong. Gerakkannya yang mematung memaksaku untuk duduk di depannya. Mencoba menggali kedasar matanya agar dia mengingatku. Tapi dia selalu membuang tatapan dan mulai terlihat kikuk. “Hey, Nona Angkuh. Dengerin aku! Nggak usah sok sibuk!” lanjutku lagi. Telapak tanganku seketika meyambar netbooknya serampangan. Membuat netbook yang malang itu tertutup dengan keji. Dia hanya bisa menelan ludah.
            “Ish..!!” dia menatapku tajam, berusaha mengusirku. Tapi dia tetap mematung di depanku. Tatapan kami beradu. Jreeett.
Sorotnya semakin menggelitikku, hingga tanpa sadar, aku mengatakan sesuatu yang tak terduga.
“Kamu tahu orang yang selalu jadi Butlermu?  Hm, dia Rizuki, dan dia suka sama kamu. Gak bisa ya sedikit aja kamu ngasih senyum ke dia?” kataku tanpa sedikit pun kuberikan celah untuknya bereaksi. Berlalu begitu saja.
“Hufh...” Dia hanya mampu mendengus aroma secangkir cappuchino latte yang masih mengepul, sepertinya dia masih berada di zonanya sendiri dan membayangkan wajah seseorang yang selalu menerima pesanan darinya. Dan membuat cappuchino dengan bau yang sama. Seorang lelaki yang terlihat seperti blasteran Indo-Jepang, tingginya sekitar 176cm, bertubuh tinggi tegap, berkacamata, rambutnya cokelat gelap dan selalu tersenyum ramah. Kubiarkan dia terbang dalam lamunannya sementara aku pergi membuatkan sesuatu untuknya.
            “Cobalah. Ini gratis.” kataku ketika kembali dan menyodorkan secangkir minuman pekat, aku menjauh. Gadis itu masih pura-pura sibuk berkutat di depan layar netbooknya. Dia melirik sekilas ke cangkir itu, meraihnya, menghirupnya. Dia menggelengkan kepala dan mejauhkannya. Cangkir yang dipenuhi cairan pekat itu hampir meluap, mengepulkan aroma teh hijau segar, begitu menggoda. Dan membuatnya kembali menarik cangkir itu dan menyeruputnya. Berharap dari rasa teh itu, memunculkan ingatannya tentangku. Dia, teman sebangkuku sehari. Lucia
                                                            @@@
Hari pertama berada di salah satu SMA di Jakarta tak begitu buruk. Setidaknya, karena aku berhasil mengenal salah satu teman di kelas. Teman sebangkuku. Gadis mungil yang pendiam bernama Lucia.
            “Nih, buat kamu.” kataku ketika kami sama-sama menunggu hujan reda sepulang sekolah. Kami berdua duduk di beranda sekolah, di antara lorong-lorong kelas yang lembab.
            “Terima kasih.” katanya lembut. Dia menggapai wadah kopi panas itu dan meminumnya. “Fiuutts...” Dia memuntahkan seluruh kopi yang telah masuk ke mulutnya. “Ini kopi ya? Nyaris tertelan.” katanya lagi.   
“Iya, kenapa?” tanyaku heran. Dia hanya tersenyum sambil menggenggam wadah kopi yang hangat itu.
            “Ah, aku cuma nggak bisa minum kopi, perutku akan menolak dan memuntahkan darah.” katanya sambil tersenyum lagi. Sungguh kekuatan darimana yang mendorongnya tersenyum dengan kenyataan itu?
            “Kamu? Maag?” tanyaku hati-hati. Aku tak bermaksud membuatnya risih dengan pertanyaanku. Rasa sesalku menumpuk, kenapa nggak aku tuker aja dengan tehku?
            “Hmm.. maag kronis, ibuku mengatakan aku memiliki lambung yang bermasalah dari lahir.” katanya dengan wajah polos. Matanya tersenyum dibalik kacamata yang berembun. Membuatku ingin melepaskan jacketku untuknya, tapi Rizuki, datang lebih dulu.
            “Touya, ayo pulang!” ajaknya sambil memberikan sebuah payung tembus pandang. Kemudian dia berbalik dan menjauh.
            “Siapa dia?” bisik gadis itu padaku.
            “Rizuki, abangku. Sekaligus satu-satunya keluargaku yang tersisa” terangku. Aku harap, tak ada rasa kasihan yang terselip di benaknya.
            “Oh, hmm, dia tampan.” katanya, begitu saja. Tak terduga. Matamu yang lebar seakan kembali tersenyum, membuat dadaku sesak. Salah satu jawaban yang juga tak kuharapkan.
             “Ayo ikut kami pulang.” ajakku, dan dia mengangguk. Meletakkan kopi yang baru dicecap dan dimuntahkan itu, begitu saja. Lalu kami berjalan dalam lindungan payung yang sama. Diiringi hentakkan-hentakkan bulir hujan ke payung transparan itu dan menyaksikan kami, bersama.
            Di mobil, dia hanya diam saja, bahkan kami bertiga seperti terkuasai lamunan masing-masing. Sampai akhirnya Rizuki melemparkan granat tepat di otakku, hatiku. Pernyataan skakmat.
“Besok kau akan terbang ke Jepang, Touya, Nenek akan menjemputmu di bandara Narita. Kau akan melanjutkan sekolahmu di Tokyo.” ya, Rizuki masih terpaku di balik kemudinya. Tak mengaharapkan respon dariku, setujukah aku atau tidak? Menyangkakah ketika itu adalah pertemuan awal sekaligus akhir di SMA itu? Aku akan hidup dengan Nenekku ke Jepang. Tempat kelahiran ayahku. Meninggalkannya. Lucia
                                                            @@@
            Sabtu pagi, setelah tiga hari yang lalu aku bertemu Lucia dan memberikan secangkir teh padanya, aku semakin penasaran. Jadi saat aku tak memiliki jadwal memotret, kusempatkan datang ke cafe. Berharap dia juga datang.  Hmm, apa sekarang dia udah inget aku?
Plein d’amour[6] cafe nampak lengang ketika aku masuk. Suasana hangat menyambut.
“Selamat siang Nona, mau pesan apa?” sapa Rizuki. Suaranya terdengar jelas, dia sedang melayani seorang tamu, dan itu pasti Lucia.
Aku segera menuju ke belakang etalase service seperti biasa. Memperhatikan mereka di salah satu meja. Dan Lucia masih tak tersenyum pada Rizuki.
 “Tunggu sebentar ya.” kata Rizuki berbumbu senyum sambil pergi meninggalkan meja. Membuatku tak tahan untuk mendekat.
“Hai, udah nyoba buat tersenyum ke Rizuki, nona angkuh?” tanyaku sambil tiba-tiba duduk. Tersenyum padanya, tapi tatapannya terlihat seakan senyumku membawa racun.
            “Hmm,” hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya sambil terus sibuk beradu dengan keyboard netbook. Rizuki, muncul dengan membawa secangkir cappuchino latte. Berdiri terpaku, kaget melihat aku ada bersama gadis itu. Senyumnya seakan larut dan terbungkus.    
“Silahkan dinikmati nona.” kata Rizuki dan tersenyum kembali pada gadis itu. Kemudian melotot aneh ke arahku. Ngapain kamu disini? Sana pergi! kurang lebih begitulah arti tatapannya. Terserah dong! begitu tatapanku membalas.
            “Ah, Rizuki. Sebentar, kukenalkan pada Lucia, Lucia dia Rizuki. Abangku. Aku kira kamu pernah menjumpainya juga dulu. Dia yang nganterin kita pulang sekolah.” seketika kata-kata itu meluncur dengan mulusnya dari mulutku. DEG!!Jantungku berdetak hebat. Udara pun berubah memanas. Seru... tatapan Lucia yang kosong membuatku semakin menjadi-jadi. “Lucia, ayo jabat tangan Rizuki, dia sangat memimpikan hari ini.” sambil menggapai Cappuchino milik Lucia dan menyecapnya. Yaiks, kopi...
            “Hai, aku Rizuki.” kata Rizuki sambil menunjukkan telapak tangannya yang lebar. Gadis itu menjabat tangannya, mencoba tersenyum.
 “Lucia.” jawabnya lirih.
“Ya, Touya, kenapa kamu yang minum cappucinonya Lucia?” Rizuki Protes dan mencoba memukulku dengan baki.
“Hai, santai Bro, Lucia nggak bisa minum kopi. Kalau kamu beneran naksir dia, kau harus mengenalnya lebih jauh. Karena Nona angkuh yang satu ini sangat misterius.” jawabku penuh senyum, yakin.
“Ya! Touya!” Rizuki menatapku tajam. Dia mengharapkan aku untuk berhenti berbicara.
 “Hmm, Lucia. Kau tahu Rizuki menyukaimu kan, dan aku juga tertarik padamu. Jadi, kau pilih siapa diantara kami?” Lidahku benar-benar tak bisa berhenti. Membuat Lucia pucat pasi, mati rasa... Oh Tuhan!
                                                @@@
            Sebuah hari mungkin saja berlalu. Siapa sangka akan ada sebuah hari yang menggoreskan cinta. Sungguh, cinta itu seperti kafein yang membuat lidah seakan terkurung dalam candu. Meski kau sadar kadar kafein tinggi terlalu berbahaya, tapi kau tetap menyukainya. Rasa pahit itu memabukkan lidah. Dan sehari saja kau tak menjumpainya, hidupmu langsung berubah hambar, tanpa semangat, mati dalam hidup. Dalam sekejap, kehadiran secangkir senyum itu membuatmu kembali ada.. bernyawa.
                                                            END




[1] Cokelat bubuk tabur khas cappuchino
[2] Gadis Pelayan
[3] Di luar ruang (luar studio)
[4] Pelayan Pria
[5] Etalase untuk memajang beberapa kudapan
[6] Bahasa Perancis yang artinya penuh cinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar