“Haish, Kamu bener-bener nggak punya perasaan
ya!” Rizuki mulai mengganas. Serius!
Saudara macam apa dia? memaksaku melakukan suatu hal, padahal dia tahu aku
tak pernah menyukainya.
“Argh, Kamu lakuin aja sendiri!” Aku
menyerah. Kulemparkan sendok ke meja, menjauh dari cangkir cappucino yang
harusnya kuberi choco granule [1] di
permukaanya. Meja dapur cafe kini dipenuhi cangkir-cangkir cappucino gagal yang
kuhasilkan.
“Hmm.. Tuan, Tuan Rizuki, Nona itu
datang lagi.” bisik salah seorang maid[2].
Kulirik deretan meja cafe. Tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang yang
asyik berbincang. Seketika Rizuki menyambar celemek pelayan dan daftar menu,
kemudian berjalan lurus hingga sampai di depan meja seorang gadis.
“Siapa dia?” tanyaku pada maid tadi.
“Oh, hmm.. Nona itu sering mampir
kemari, dan selalu memesan cappucino yang sama, tapi nggak pernah diminum. Padahal
Tuan Rizuki sendiri yang selalu mengambil alih pesanannya,” keterangan dari
maid itu membuatku curiga, “permisi
Tuan Touya, ada pelanggan lain yang datang.” lanjutnya sambil beranjak pergi. Oh, jadi gitu? Hmm, menarik juga. Kayaknya Rizuki suka gadis angkuh itu?
Kuamati
sekilas gadis berambut hitam ikal sepunggung itu. Rompi kasual denim membalut
rapi tubuhnya yang kecil. Matanya bulat, dan tampaknya dia bukan tipe gadis
pengumbar senyum. Terlihat Rizuki malah yang berubah aneh di depannya. Penuh
senyum dan salah tingkah.
Segera
aku berbalik dan membuka rak dapur. Wangi yang khas menyeruak menembus kedalam
pikiranku, damai. Deretan kotak berisi
beberapa jenis teh membuatku ingin lekas menyeduhnya.
Rizuki muncul penuh senyum. Mungkin
saja dia telah terasuki hantu yang sedang kasmaran.
“Touya, Gimana latihanmu? udah
beres?” Suaranya melunak. Ish..
“Males! Kamu aja deh yang ngelola cafe ini, aku
nggak bisa bikin kopi. Lagian murid musikmu pasti bisa maklumin. Biar ntar aku mbantuin
investasi aja, ya.” ujarku sambil menggenggam erat cangkir keramik beralur
bambu. Hangat...
“Dasar kau! keras kepala. Susah
diatur emang ya!” suaranya menindas. Sementara tangannya sibuk meramu sari kopi
yang pekat, dari mesin ekspresso tua yang menjadi andalan cafe.
“Hmmm...” dengusku. Buru-buru
kuhirup aroma menenangkan dari teh hijau yang kuseduh. Ah, Aku hanya ingin menghindari perang saudara, tak lebih.
Pria bertubuh tinggi besar itu menaikkan
letak kacamatanya. Begitu tenangnya membubuhkan creammer dan melukiskan choco
granule di permukaannya, diselipi senyuman. Setelah selesai, dia menggapai
nampan dan mengantarkan pesanan gadis itu. Bahu bidangnya berayun mengimbangi
langkah jenjangnya, tentu saja dengan senyum termanisnya yang membuatku muak.
Kuperhatikan ekspresi dari gadis
itu. Datar... Hahaha, Rizuki. Kasihan..
bahkan senyummu nggak dilirik sama sekali. Ckckck.
Dia kembali ke dapur ketika aku
telah menandaskan teh hijau penuh aroma itu. Kemudian aku beralih ke luar, aku
harus segera pergi. Ada jadwal pemotretan menungguku.
“Hei Touya, Kau mau kemana?”
tanyanya.
“Biasa” kataku datar. Aku yakin,
Rizuki tak menggubrisku, dan aku tak peduli. Beberapa tamu mulai masuk ke cafe,
sebagian bangku malah telah diduduki pelanggan. Aku keluar dari cafe yang berdinding
bata merah itu, meninggalkan atmosfer kopi yang membuat candu bagi para
penggemarnya.
@@@
“Hallo,
Touya. Bisa nggak kamu ke cafe sekarang? Aku harus ke Bogor. Gantikan aku hari
ini aja.” bujuk Rizuki padaku. Suaranya di ujung ponsel terdengar memberat, tak
seperti biasanya.
“Ah,
aku nggak bis...” belum sempat kukatakan alasanku, Rizuki langsung menyambar,
“Cuma
buat hari ini. Bantuin aku mengawasi cafe, aku harus datang ke Konser anak
didikku.” mohonnya lagi. Huft, ya.. tentu saja. Aku tak bisa berkutik dengan
permohonannya kali ini. Kenapa dia?
Tumben. Biasanya, dia bisa menghandle semuanya, kan?
@@@
Sesi Pemotretan outdoor[3]
sedikit menguras energiku. Ya, suhu matahari tropis kian meradang akhir-akhir
ini. Membuat kulit Kirana, modelku kali ini, berkilat-kilat kecokelatan.
Semakin eksotis ketika berpadu dengan gulungan ombak yang tersapu angin di
belakang sana.
“Ya, Good Job!” teriakku untuk semua
kru yang telah membantuku, juga Kirana. Rasa lelah telah terlukis jelas pada
wajah mereka. Kutengok hasil jepretanku sekilas. Aku tersenyum puas, semua
titik angle telah terkuasai sempurna.
Kamu emang jenius, Touya!
“Touya, Kamu mau kemana sekarang? Boleh
ikutan nggak?” Kirana tiba-tiba berada di sampingku, tangannya bergelayut manis
di leherku. Seulas senyum manjanya hadir.
“Aku mau ke cafe, ya ayo kalo mau
ikut.” aku melemparkan tawaran padanya. Toh, bukan pertama kalinya aku mengajak
seorang model ke cafe. Sering malah aku sengaja mengajak mereka untuk
kukenalkan pada Rizuki, siapa tahu Abangku itu tertarik pada salah satunya?
Rizuki sudah sangat matang untuk berumah tangga sebenarnya. Tapi, dia terlalu
pemilih.
“Oh, emm, Nggak jadi deh, aku ada
pemotretan lagi.” katanya sambil tersenyum garing. Ya, aku tahu Kirana hanya
sekedar berbasa-basi saja.
Sambil mengemudikan mobil,
kusebarkan pandangan ke sekitar. Mataku mematok pada seorang gadis mungil yang
berjalan di trotoar. Menunduk, wajahnya terlihat samar dibalik rambut gelapnya
yang tergerai. Beberapa buku digamitnya begitu saja. Tas mungilnya tampak berat.
Dia melangkah dengan lemas. Lho, Bukannya dia gadis yang ditaksir Rizuki?
Mobilku
kuhentikan tepat di depan cafe. Dengan bimbang aku melangkah masuk ke cafe yang
hangat itu, jam klasik yang terpajang gagah telah menunjukkan pukul 14.00 WIB.
“Oh,
Tuan Touya. Lama sekali nggak mampir kemari, Ah, kau terlihat lebih segar ya
sekarang.” sapa seorang Butler[4] di
dapur.
“Ya,
karena aku nggak perlu liat kamu, Ndra.” kataku penuh canda. Butler yang
bernama Indra itu pun tertawa.
“Tuan,
Nona itu datang lagi” bisik Sonia, Maid yang minggu lalu juga mengabari gadis
yang sama pada Rizuki.
“Terus?”
tanyaku aneh, kedua alisku menaut. Gadis
itu selalu di spesialin ya sama Rizuki? “bawain aja cappucino latte biasa” lanjutku. Maid itu menurut.
“Siap
Tuan.” dengan sigap dia mengambil nampan di meja.
@@@
“Silahkan
dinikmati, Nona.” Sonia, telah mengembangkan senyum terindahnya tapi gadis itu
tetap tanpa ekspresi. Secangkir cappuchino
latte yang dihiasi creammer
lembut dengan choco granule berbentuk
bintang telah tepat berada di depannya. Sebuah goresan seni yang dihadirkan
lewat secangkir cairan cokelat pekat beruap.
“Terima Kasih.” terlihat dia hanya
mengangguk. Hm.. aku masih penasaran dan berdiri di balik etalase service[5] cafe.
Maid itu terus saja tersenyum, menunduk kemudian menjauh. Cappucino itu hanya
diliriknya dan dalam sekejap ekspresinya berubah. Kemudian gadis itu mendorong
cangkirnya ke pinggiran meja dan mulai berkutat lagi dengan netbooknya. Jari-jarinya seperti
berkejaran dengan waktu, tanpa sempat ada yang mau mengalah. Kudekati dia.
“Kamu nggak suka cappucinonya ya?”
Dan dia tak bergeming. Seperti ada zona yang menyelimuti dirinya, sendirian.
“Oh, suka kok.” katanya datar, tak
sedikitpun dia melirik ke arahku. Dasar
gadis angkuh! Sepasang matanya berpusat hanya pada apa yang dia kerjakan,
meski dia terlihat tak nyaman kuperhatikan. Aku tak peduli.
“Kalau gitu, minum dong!” Kataku
lagi dengan sedikit tegas. Dia berhasil berpaling dari pekerjaannya, matanya
yang lebar tak bisa menyembunyikan lirikan di sudutnya. Sensornya sedang
bergerak mengamatiku. Mungkin dia merekam seorang lelaki bertubuh tinggi, kurus
dibalik kaos oblong berwarna hitam yang menyembul dari lengan clemek dan rambut
sedikit berantakan di bawah ikat kepala, kacau. Berantakkan! Dia menautkan sepasang
alisnya. Aku malah melihatnya seperti, seseorang... Hm, tunggu.. Dia?!! Beneran Dia? Ah, aku tak bisa
mempercayai kemampuan penglihatanku kali ini. Nafasku memburu, sepertinya
otakku kehilangan nalar yang waras, mencari-cari adakah yang salah dengan ini?
Hufh, aku harus tetap tenang. Setidaknya saat berada di depan gadis itu.
Kulirik dia, Kemeja denim berwarna biru pudar membuatnya terlihat makin cantik.
Ah, sangat rapi. Astaga! Apa dia nggak mengenaliku? Jangan-jangan, memorynya 3 tahun
lalu benar-benar lenyap termakan radiasi netbooknya hingga nggak mampu
mengingatku sama sekali.
“Apa hakmu nyuruh-nyuruh aku?
Terserah aku dong mo minum atau nggak!” katanya sinis. Ah, mungkin kesanku kini
sudah buruk di matanya sebelum dia sempat mengingatku. Haish! Bodoh.
“Ya udah terserah kamu deh!” kataku
ketus. Bahkan sepertinya kotak ingatannya telah benar-benar kosong. Gerakkannya
yang mematung memaksaku untuk duduk di depannya. Mencoba menggali kedasar
matanya agar dia mengingatku. Tapi dia selalu membuang tatapan dan mulai terlihat
kikuk. “Hey, Nona Angkuh. Dengerin aku! Nggak usah sok sibuk!” lanjutku lagi.
Telapak tanganku seketika meyambar netbooknya serampangan. Membuat netbook yang
malang itu tertutup dengan keji. Dia hanya bisa menelan ludah.
“Ish..!!” dia menatapku tajam,
berusaha mengusirku. Tapi dia tetap mematung di depanku. Tatapan kami beradu.
Jreeett.
Sorotnya
semakin menggelitikku, hingga tanpa sadar, aku mengatakan sesuatu yang tak
terduga.
“Kamu
tahu orang yang selalu jadi Butlermu? Hm, dia Rizuki, dan dia suka sama kamu. Gak
bisa ya sedikit aja kamu ngasih senyum ke dia?” kataku tanpa sedikit pun
kuberikan celah untuknya bereaksi. Berlalu begitu saja.
“Hufh...”
Dia hanya mampu mendengus aroma secangkir cappuchino latte yang masih mengepul,
sepertinya dia masih berada di zonanya sendiri dan membayangkan wajah seseorang
yang selalu menerima pesanan darinya. Dan membuat cappuchino dengan bau yang
sama. Seorang lelaki yang terlihat seperti blasteran Indo-Jepang, tingginya
sekitar 176cm, bertubuh tinggi tegap, berkacamata, rambutnya cokelat gelap dan
selalu tersenyum ramah. Kubiarkan dia terbang dalam lamunannya sementara aku
pergi membuatkan sesuatu untuknya.
“Cobalah. Ini gratis.” kataku ketika
kembali dan menyodorkan secangkir minuman pekat, aku menjauh. Gadis itu masih
pura-pura sibuk berkutat di depan layar netbooknya. Dia melirik sekilas ke
cangkir itu, meraihnya, menghirupnya. Dia menggelengkan kepala dan mejauhkannya.
Cangkir yang dipenuhi cairan pekat itu hampir meluap, mengepulkan aroma teh
hijau segar, begitu menggoda. Dan membuatnya kembali menarik cangkir itu dan
menyeruputnya. Berharap dari rasa teh itu, memunculkan ingatannya tentangku. Dia,
teman sebangkuku sehari. Lucia
@@@
Hari
pertama berada di salah satu SMA di Jakarta tak begitu buruk. Setidaknya,
karena aku berhasil mengenal salah satu teman di kelas. Teman sebangkuku. Gadis
mungil yang pendiam bernama Lucia.
“Nih, buat kamu.” kataku ketika kami
sama-sama menunggu hujan reda sepulang sekolah. Kami berdua duduk di beranda
sekolah, di antara lorong-lorong kelas yang lembab.
“Terima kasih.” katanya lembut. Dia
menggapai wadah kopi panas itu dan meminumnya. “Fiuutts...” Dia memuntahkan
seluruh kopi yang telah masuk ke mulutnya. “Ini kopi ya? Nyaris tertelan.”
katanya lagi.
“Iya,
kenapa?” tanyaku heran. Dia hanya tersenyum sambil menggenggam wadah kopi yang
hangat itu.
“Ah, aku cuma nggak bisa minum kopi,
perutku akan menolak dan memuntahkan darah.” katanya sambil tersenyum lagi.
Sungguh kekuatan darimana yang mendorongnya tersenyum dengan kenyataan itu?
“Kamu? Maag?” tanyaku hati-hati. Aku
tak bermaksud membuatnya risih dengan pertanyaanku. Rasa sesalku menumpuk, kenapa nggak aku tuker aja dengan tehku?
“Hmm.. maag kronis, ibuku mengatakan
aku memiliki lambung yang bermasalah dari lahir.” katanya dengan wajah polos.
Matanya tersenyum dibalik kacamata yang berembun. Membuatku ingin melepaskan
jacketku untuknya, tapi Rizuki, datang lebih dulu.
“Touya, ayo pulang!” ajaknya sambil
memberikan sebuah payung tembus pandang. Kemudian dia berbalik dan menjauh.
“Siapa dia?” bisik gadis itu padaku.
“Rizuki, abangku. Sekaligus
satu-satunya keluargaku yang tersisa” terangku. Aku harap, tak ada rasa kasihan
yang terselip di benaknya.
“Oh, hmm, dia tampan.” katanya,
begitu saja. Tak terduga. Matamu yang lebar seakan kembali tersenyum, membuat dadaku
sesak. Salah satu jawaban yang juga tak kuharapkan.
“Ayo ikut kami pulang.” ajakku, dan dia
mengangguk. Meletakkan kopi yang baru dicecap dan dimuntahkan itu, begitu saja.
Lalu kami berjalan dalam lindungan payung yang sama. Diiringi
hentakkan-hentakkan bulir hujan ke payung transparan itu dan menyaksikan kami,
bersama.
Di mobil, dia hanya diam saja,
bahkan kami bertiga seperti terkuasai lamunan masing-masing. Sampai akhirnya
Rizuki melemparkan granat tepat di otakku, hatiku. Pernyataan skakmat.
“Besok
kau akan terbang ke Jepang, Touya, Nenek akan menjemputmu di bandara Narita.
Kau akan melanjutkan sekolahmu di Tokyo.” ya, Rizuki masih terpaku di balik
kemudinya. Tak mengaharapkan respon dariku, setujukah aku atau tidak? Menyangkakah
ketika itu adalah pertemuan awal sekaligus akhir di SMA itu? Aku akan hidup
dengan Nenekku ke Jepang. Tempat kelahiran ayahku. Meninggalkannya. Lucia
@@@
Sabtu pagi, setelah tiga hari yang
lalu aku bertemu Lucia dan memberikan secangkir teh padanya, aku semakin
penasaran. Jadi saat aku tak memiliki jadwal memotret, kusempatkan datang ke
cafe. Berharap dia juga datang. Hmm, apa sekarang dia udah inget aku?
Plein d’amour[6]
cafe nampak lengang ketika aku masuk. Suasana hangat menyambut.
“Selamat
siang Nona, mau pesan apa?” sapa Rizuki. Suaranya terdengar jelas, dia sedang
melayani seorang tamu, dan itu pasti
Lucia.
Aku
segera menuju ke belakang etalase service
seperti biasa. Memperhatikan mereka di salah satu meja. Dan Lucia masih tak
tersenyum pada Rizuki.
“Tunggu sebentar ya.” kata Rizuki berbumbu
senyum sambil pergi meninggalkan meja. Membuatku tak tahan untuk mendekat.
“Hai,
udah nyoba buat tersenyum ke Rizuki, nona angkuh?” tanyaku sambil tiba-tiba
duduk. Tersenyum padanya, tapi tatapannya terlihat seakan senyumku membawa
racun.
“Hmm,” hanya itu yang bisa keluar
dari mulutnya sambil terus sibuk beradu dengan keyboard netbook. Rizuki, muncul
dengan membawa secangkir cappuchino latte. Berdiri terpaku, kaget melihat aku
ada bersama gadis itu. Senyumnya seakan larut dan terbungkus.
“Silahkan
dinikmati nona.” kata Rizuki dan tersenyum kembali pada gadis itu. Kemudian
melotot aneh ke arahku. Ngapain kamu
disini? Sana pergi! kurang lebih begitulah arti tatapannya. Terserah dong! begitu tatapanku
membalas.
“Ah, Rizuki. Sebentar, kukenalkan
pada Lucia, Lucia dia Rizuki. Abangku. Aku kira kamu pernah menjumpainya juga
dulu. Dia yang nganterin kita pulang sekolah.” seketika kata-kata itu meluncur
dengan mulusnya dari mulutku. DEG!!Jantungku
berdetak hebat. Udara pun berubah memanas. Seru... tatapan Lucia yang
kosong membuatku semakin menjadi-jadi. “Lucia,
ayo jabat tangan Rizuki, dia sangat memimpikan hari ini.” sambil menggapai
Cappuchino milik Lucia dan menyecapnya. Yaiks,
kopi...
“Hai, aku Rizuki.” kata Rizuki
sambil menunjukkan telapak tangannya yang lebar. Gadis itu menjabat tangannya,
mencoba tersenyum.
“Lucia.” jawabnya lirih.
“Ya,
Touya, kenapa kamu yang minum cappucinonya Lucia?” Rizuki Protes dan mencoba
memukulku dengan baki.
“Hai,
santai Bro, Lucia nggak bisa minum kopi. Kalau kamu beneran naksir dia, kau harus
mengenalnya lebih jauh. Karena Nona angkuh yang satu ini sangat misterius.” jawabku
penuh senyum, yakin.
“Ya!
Touya!” Rizuki menatapku tajam. Dia mengharapkan aku untuk berhenti berbicara.
“Hmm, Lucia. Kau tahu Rizuki menyukaimu kan, dan
aku juga tertarik padamu. Jadi, kau pilih siapa diantara kami?” Lidahku
benar-benar tak bisa berhenti. Membuat Lucia pucat pasi, mati rasa... Oh Tuhan!
@@@
Sebuah hari mungkin saja berlalu.
Siapa sangka akan ada sebuah hari yang menggoreskan cinta. Sungguh, cinta itu
seperti kafein yang membuat lidah seakan terkurung dalam candu. Meski kau sadar
kadar kafein tinggi terlalu berbahaya, tapi kau tetap menyukainya. Rasa pahit
itu memabukkan lidah. Dan sehari saja kau tak menjumpainya, hidupmu langsung
berubah hambar, tanpa semangat, mati dalam hidup. Dalam sekejap, kehadiran
secangkir senyum itu membuatmu kembali ada.. bernyawa.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar