Kamis, 12 Desember 2013

Menerjang Batas


Menerjang Batas


Siang itu tampak sedikit mendung, suasana hiruk pikuk dan anyir terasa menyesakkan. Medan pertempuran memang begitu mengerikan. Tanah merah darah dengan tubuh-tubuh terpotong bergelimpangan, menghilangkan selera makan dan mata pun enggan terpejam. Ya, aku terlibat di dalam perang akbar sepanjang sejarah, “Baratayudha”



          Perang ini berlangsung begitu dahsyat. Karena prajurit yang tersisa amat terbatas, jadilah aku yang seorang pengawal putri biasa, harus ikut serta merentangkan gendewaku dan berbaris di belakang Raden Arjuna. Di antara prajurit pemanah kubu Amarta, sayap barat formasi perang.
Kugenggam erat gendewa di tangan kiri dan kutebarkan pandang penuh kewaspadaan. Tampak di baris paling depan, darah terus saja muncrat dari kedua kubu yang sama kuat tersebut, luka sayatan pedang dan mayat prajurit jatuh satu persatu. Tiba-tiba,
"Nimas Rara, bersiaplah! Bidik di sisi tengah!!" teriakan Raden Arjuna yang membuatku dan sederet prajurit pemanah memusatkan pandang ke arah prajurit lawan di sisi tengah. Bersiap mengambil anak panah dan merentangkan gendewa.
Saat aku sedang menebar pandangan, napasku memburu kala melihat seorang kesatria di ujung sana dengan lincahnya menebas prajurit Amarta di sebelah kanan dan kirinya. Dia memakai baju kesatria berwarna biru muda, dan memakai mahkota kesatria. Tampak rambutnya yang panjang tak digelungnya, tetapi dikuncir seperti ekor kuda. Wajahnya tampak lusuh terciprat darah serta terpaan debu tanah tandus. Kesatria itu semakin menerobos ke sisi tengah prajurit Amarta. Kelincahannya membuat tubuhnya seperti tak tergores sedikitpun oleh senjata dari prajurit Amarta.
Jantungku berdetak keras, dan tanpa terasa, dari sudut mataku mengalir setitik air. Batinku berbisik, 'Tuhan, yakinkanlah aku, ini yang terbaik untuk semua'. Aku mengarahkan anak panahku pada Kesatria itu. Kesatria yang terletak berpuluh-puluh tombak didepan sana. Aku ragu, kulirik punggung Raden Arjuna sekilas, tampak Raden Arjuna juga menengok kearah belakang, kearahku. Lirikannya yang sekilas itu menguatkanku. 'Akankah Raden Arjuna mendengar bisikan hatiku?'
Aku kembali menatap lekat Kesatria itu, mencoba merasuk ke dalam keyakinannya, apa yang sebenarnya diinginkannya. Tangannya terus saja bergerak--menangkis serta menusuk prajurit Amarta--tanpa ampun. Berangsur semakin mendekat dan berbahaya. Tangan kiriku gemetar hebat mengarahkan panah ke arahnya. Jantungku berdentum kuat. Bukan! Bukan karena aku takut membunuh orang! Bukan juga aku takut berada di medan perang yang ganas ini. Sungguh bukan itu!! Tapi, sayu tatap matanya yang tenang selalu tergambar dalam benakku. Membuat telapak tanganku mendingin. 'Aku ragu...'
“Apa yang kau tunggu, Nimas?” tanya Raden Arjuna yang berada beberapa tombak di depanku. Benar saja, kesaktian Randen Arjuna pasti bisa menebak keraguanku.
“Hufh...” kuhela nafasku yang kian memberat. Dan terus membidik ke arah Ksatria di depan sana. Makin terasa bendungan di pelupuk mata hampir tumpah, “Kangmas...” bisik lirih itu terucap begitu saja dari mulutku. Dan entah angin apa yang mengantarkan panggilan itu, gerakan tangannya berhenti sejenak dan mencari-cari pandang ke arah tempatku berdiri. Mata sayunya menatapku diiringi senyum. ‘Kesatria itu tersenyum kearahku? Memperlihatkan deretan intan putih itu untukku kah?’ Meski berjarak puluhan tombak, tapi terlihat jelas oleh mataku. Kesatria itu tak sedetik pun melupakanku. Dia mulai bergerak lagi karena telah terdesak tentara Amarta.
Srruuuuttt!!!
‘Duh Gusti! Apa ini? Apa yang baru saja kulakukan?’ Mataku terbelalak lebar dan tak sanggup lagi menahan bendungan air di pelupuk mata. Anak panah milikku terlepas begitu saja. Bergulir deras tepat mengenai dada kiri Kesatria itu. Hingga Kesatria itu terhentak ke belakang, dalam. Air mataku mengaliri pipi dan jatuh satu-persatu ke bumi. Aku menangis dalam diam. Mata yang kini nanar ini tetap berusaha memperhatikannya, ikut merasakan betapa nyerinya karena anak panahku melesat tepat ke jantungnya. ‘Haruskah aku bangga dengan prestasiku itu? Menghujamkan lawan dengan anak panah milikku?’ Ya! Kalau saja dia bukan Kesatria itu, mungkin aku telah tersenyum bangga akan ketepatanku. Tapi, kini yang kurasa, aku terus saja merasa kian bersalah saat dia kembali mengulas senyum pada prajurit yang ada di depannya dan dengan kesetanan malah menerjang maju menumpas siapapun lawan di depannya tanpa ampun. Tangan kanannya terus menebas dengan pedang yang kini dia sarungkan, sedangkan tangan kirinya terus memegangi anak panah yang menancap di dadanya begitu dalam. Aku yakin dia mengenali anak panahku.
Kesatria itu berlari menuju ke arahku sambil menangkis serangan yang datang menghadangnya, begitu pun kakiku yang terus bergerak maju, melewati raden Arjuna yang kini tampak mafhum dengan posisiku. Hingga akhirnya Kesatria itu berdiri mematung berjarak satu tombak denganku. Bibirnya menunyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Mata teduhnya kian menyiratkan semburat perih yang tertahan. Ya, pasti racun dari anak panahku sedang bereaksi, mengalir ke setiap nadinya. Kami saling mendekat dengan pelan.
“Ah,” aku mengaduh karena tanpa kusadari pedangnya mengayun ke leher kiriku. ‘Apa ini?’. Mata nanarku menatapnya pekat mencoba mencari penjelasan.
“Ah, Nimas?” suaranya bergetar tersendat. Segera saja dibuangnya pedang yang ternyata telah terlepas dari sarung saat tadi dibawanya berlari mengejarku. Darah segar mengalir dari leher kiriku merembes ke baju kesatria berwarna abu-abu yang kukenakan. Kepala terasa pening dengan sakit dan perih yang luar biasa. Pandanganku mulai kabur, aku terjerembab ke tanah. Kesatria itu menghambur nenangkapku.
Kali ini aku yang menebar senyum padanya. Matanya yang teduh itu terlihat penuh sesal, meski mataku telah kabur, tapi aku merasakan itu. Dia kemudian berbisik di dekat telinga kananku.
“Nimas, bukan maksudku, sungguh... Nimas, aku hanya tak ingin kau melihatku sedang sekarat. Ni... mas!” suaranya makin kencang saat rasa perih ini sulit kutahan. Nyeri...
“Nimas, tunggu aku... Kita pasti bertemu di kehidupan berikutnya.” Bisiknya lagi. Ya, lidahku telah kelu. Pandanganku pun kini kabur sempurna. Gelap dan fana. Nyeri ini memaksaku untuk mengatupkan kedua mataku. Satu-satunya indera yang masih dapat kuandalkan hanya pendengaranku. Mendengar bisik lirih Kesatria bermata teduh itu. Ah, sepertinya indera perasaku juga masih mampu menyadari keningku telah dikecupnya. Andai aku bisa menggerakkan bibirku untuk tersenyum kepadanya.
Craaaasss!!!
Aku mendengar dengan masih jelas. Seseorang telah mengayunkan pedangnya kearah kami. Hingga genggaman tangan Kesatria bermata teduh itu melemas dan terlepas. Tubuhnya jatuh tersungkur di depanku/ Mendahuluiku yang sedang merasakan sakitnya sekarat.
Ah, inikah akhir dari kisah kami? Sepasang abdi prajurit dari dua negara berbeda yang ternyata berseteru hingga berperang... Duh Gusti! Terimalah kami dalam keabadian’
Hingga nafasku tercekat, inilah hembusan terakhir...

           End


*Big Thank You buat @KampusFiksi karena telah membantu menyunting flash fiction ini :)

2 komentar:

  1. lanjut lagi..tiba2 mereka muncul di masa depan.haha

    BalasHapus
  2. Ada beberapa ide liar tentang kelanjutannya Gha... aku mau membuat awal pertemuan mereka dulu :)

    BalasHapus